Bulan Safar sering dikaitkan dengan mitos kesialan di sebagian masyarakat, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara tegas telah membantah keyakinan ini. Berikut penjelasan lengkap berdasarkan dalil shahih.
Teks Hadits Utama: Penolakan Mitos Kesialan
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial yang menghalangi niat), tidak ada hamah (kesialan karena burung hantu), dan tidak ada (kesialan karena bulan) Safar.” (HR. Bukhari no. 5707 dan Muslim no. 2220)
Asal-Usul Mitos Kesialan Bulan Safar
Para ulama menjelaskan bahwa anggapan sial terhadap bulan Safar berakar dari kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyah sebelum Islam, yang meyakini adanya penyakit perut mirip cacing besar yang disebut “Safar” dan dianggap menular serta membawa petaka. Sebagian riwayat lain juga mengaitkannya dengan kebiasaan masyarakat jahiliyah yang enggan bepergian atau menikah pada bulan ini karena takut mendatangkan musibah. Islam datang untuk membatalkan seluruh keyakinan tersebut secara tegas.
Segala Ketentuan Kembali kepada Allah
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا
Artinya: “Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah pelindung kami…” (QS. At-Taubah: 51)
Tanya Jawab Seputar Mitos Bulan Safar
Apakah ada amalan khusus yang dianjurkan syariat pada bulan Safar?
Tidak ada amalan atau ritual khusus yang disyariatkan secara spesifik untuk bulan Safar, baik berupa shalat tertentu, puasa khusus, maupun doa penolak bala yang diklaim wajib dibaca pada waktu tertentu di bulan ini. Umat Islam tetap dianjurkan menjalani ibadah wajib dan sunnah seperti biasa tanpa mengkhususkan amalan tambahan berdasarkan bulan tersebut.
Bagaimana sikap yang benar jika merasa khawatir atau was-was terhadap mitos ini?
Cara terbaik mengatasi perasaan was-was adalah dengan memperbanyak tawakal kepada Allah, meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir-Nya semata, serta membaca doa perlindungan sehari-hari (seperti dzikir pagi-petang) sebagaimana dianjurkan dalam kondisi apa pun sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Safar.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 5707 & Muslim no. 2220 (dari Abu Hurairah RA)
– QS. At-Taubah: 51









